Skip to main content

Posts

Seri Tugas Akhir: Di Ujung Perjalanan

Tepat sebulan yang lalu aku berjanji untuk merampungkan tulisan seri tugas akhir, and here we go . Sampai mana, ya, kemarin? ... ... (membaca ulang tulisan sebulan lalu) ... ... Oh, ternyata tentang gagal finish . Waktu itu adalah hari-hari terakhir menuju batas sidang untuk kelulusan pada Wisuda Juli dan kami (aku, Fathiya, Ulfa) ingin mengusahakan sidang tugas akhir dapat terlaksana. Tetapi, suatu hari, kami mengalami kendala teknis dari eksternal, yakni kehilangan data, juga kecerobohan lupa mem- back up  dari saya yang membuat pengerjaan tugas akhir kami harus tertunda. Kami tidak tau kapan data tersebut akan dikembalikan, bahkan kami tidak tau apakah data yang hilang dapat kami peroleh kembali atau tidak. Jika tidak, ya harus dimulai lagi dari awal. Pasrah sambil tetap berusaha menyelesaikan apa yang kami bisa pun jadi satu-satunya pilihan. Akhirnya, kami gagal mencapai garis finish di Wisuda Juli karena tidak bisa sidang sebelum tenggat waktu, namun syukurlah kami mendapat da...

Seri Tugas Akhir: Lika-Liku Perjalanan

Idealnya, tugas akhir adalah tempat mengaplikasikan ilmu-ilmu dari mata kuliah yang dipelajari selama tiga tahun. Nyatanya, tidak juga. Aku justru menemukan banyak hal baru yang belum pernah kusentuh atau bahkan kubayangkan. Contohnya, belajar desain --UI/UX dan UML, mengoperasikan game engine , menyusun konten pembelajaran dan ujian/ evaluasi ketersampaian materi, bahasa pemrograman baru, dan bla bla bla. Tenang, aku tau hal-hal itu akan terjadi. Aku sangat paham risiko yang akan kuhadapi saat memutuskan untuk memilih topik TA yang out of the (Biomed's) box. Lalu, apakah aku merasa kesusahan dalam menjalani risikonya? Ya, susaaaaah sekali. Paling susah adalah memulai, sebab aku berpikir bahwa segalanya harus langsung sempurna. Kan, kan, kan, mana mungkin... Learning by doing  benar-benar gambaran pengerjaan tugas akhirku, bahkan learning   after finishing  haha jatohnya jadi ngasal atau bahasa lebih halusnya sotoy . Beruntungnya aku, proses pembelajaran ini didukung ole...

Seri Tugas Akhir: Awal dan Gambaran Perjalanan

Akhirnya! Memang tidak seharusnya dituliskan di awal cerita, namun itu lah kenyataannya. Cerita ini benar-benar dimulai dengan "akhirnya". Iya, akhirnya aku menulis lagi setelah sekian lama haha. Kali ini mau berkomat-kamit sedikit tentang perjalanan tugas akhir sarjana seorang Rahma Rizky Alifia. Perjalanan yang aku nggak sangka-sangka penuh drama dan makna, dan hebatnya aku bisa (hampir) melaluinya. Aku memilih topik TA (tugas akhir) yang berhubungan dengan manajemen kebencanaan ( disaster management ), tepatnya mengembangkan sebuah platform  edukasi terkait manajemen bencana. Kenapa? Apa hubungannya dengan jurusanku, Teknik Biomedis? Memilih topik TA, kata para kating (kakak tingkat-red), merupakan momen krusial. Sebab, perjalanan tugas akhir bukan lah rentetan cerita yang sederhana. Lika-liku penjelajahan sudah pasti ada. Kerikil atau jalanan berlubang akan kerap ditemui. Bahkan, di saat-saat tertentu bisa saja menemukan gang buntu. Maka dari itu, persiapkanlah segala amu...

Pesan untuk Manusia

Mungkin, ekspektasiku terlalu tinggi. Aku lupa kalau kau juga manusia. Manusia tempatnya salah, jauh dari kesempurnaan. Manusia yang aneh, dan penuh keegoisan. Manusia dengan keinginannya lepas dari kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui. Manusia yang gemar meminta maaf tanpa alasan jelas atau gengsi meminta maaf. Mungkin, pikiranku terlalu negatif. Niat minta maaf malah menimbulkan amarah baru. Sebab, aku sungguh tak mengerti mengapa dirimu menyalahkan diriku. Padahal, kau saja yang tidak mampu. Siapa bilang aku belum mengikhlaskan? Hey, jangan kepedean. Siapa bilang masih ada yang tidak kumaafkan? Hey, satu detik pun aku enggan kembali memikirkan. Tolong, jangan jadikan aku sebagai alasan. Atas kesulitan-kesulitan yang kamu rasakan. Tolong, jangan memohon untuk dimaafkan. Padahal, tidak tahu apa yang dipermasalahkan. Maaf karena aku dulu pernah mengganggumu. Aku janji, hidupmu tidak akan kuganggu lagi. Tenang, aku akan memegang omonganku, tak seperti dirimu.

life is so weird, sometimes or most of the times?

life teaches us to be always okay. no matter what has happened. in the end, life wants us to be fine. in the end, life asks us to forgive and forget. here come the questions... why do we need to face life if, in the end, we must forget it? why do we need to know each other if, in the end, we must forget each other? thus, why does life tell us that everything happens for a reason?

Peringatan Kehancuran

Aku geram dan tercekam Aku benci tak henti-henti Menyaksikan para penjarah yang tak punya otak, apalagi hati Menggempur habis negeri ini Kesalku kekal menembus nadi Penjarah demokrasi itu Sungguh tak tahu diri Tak tahu malu! Bajingan seruku Apa-apa provokasi Sedikit-sedikit ditunggangi Tiba-tiba hama demokrasi Ya kalian itu, hei penguasa dan dayang keji Jangan pesta! Bisa puas kala rakyatmu tertindas? Jangan tertawa! Perintah siapa berbahagia padahal rakyat penuh luka? Jangan teruskan! Tidak enak bukan memakan domba mati hasil diadu tanpa henti? Tanda kehancuran ini, ingat lah! Lekas berbenah Sebelum tumpah lebih banyak darah Sebelum memuncak segala amarah

biarkan pergi

aku sudah duduk di sini di atas awan sedang menatap kenangan bergegas meninggalkannya aku sudah duduk di sini melihat awan sedang membayangkan masa depan bersiap mengejarnya cukup sudah sampai di sini jangan cari atau hampiri apalagi tangisi cukup sudah sampai di sini biarkan aku pergi jangan harap kembali