Skip to main content

Posts

Pesan untuk Manusia

Mungkin, ekspektasiku terlalu tinggi. Aku lupa kalau kau juga manusia. Manusia tempatnya salah, jauh dari kesempurnaan. Manusia yang aneh, dan penuh keegoisan. Manusia dengan keinginannya lepas dari kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui. Manusia yang gemar meminta maaf tanpa alasan jelas atau gengsi meminta maaf. Mungkin, pikiranku terlalu negatif. Niat minta maaf malah menimbulkan amarah baru. Sebab, aku sungguh tak mengerti mengapa dirimu menyalahkan diriku. Padahal, kau saja yang tidak mampu. Siapa bilang aku belum mengikhlaskan? Hey, jangan kepedean. Siapa bilang masih ada yang tidak kumaafkan? Hey, satu detik pun aku enggan kembali memikirkan. Tolong, jangan jadikan aku sebagai alasan. Atas kesulitan-kesulitan yang kamu rasakan. Tolong, jangan memohon untuk dimaafkan. Padahal, tidak tahu apa yang dipermasalahkan. Maaf karena aku dulu pernah mengganggumu. Aku janji, hidupmu tidak akan kuganggu lagi. Tenang, aku akan memegang omonganku, tak seperti dirimu.

life is so weird, sometimes or most of the times?

life teaches us to be always okay. no matter what has happened. in the end, life wants us to be fine. in the end, life asks us to forgive and forget. here come the questions... why do we need to face life if, in the end, we must forget it? why do we need to know each other if, in the end, we must forget each other? thus, why does life tell us that everything happens for a reason?

Peringatan Kehancuran

Aku geram dan tercekam Aku benci tak henti-henti Menyaksikan para penjarah yang tak punya otak, apalagi hati Menggempur habis negeri ini Kesalku kekal menembus nadi Penjarah demokrasi itu Sungguh tak tahu diri Tak tahu malu! Bajingan seruku Apa-apa provokasi Sedikit-sedikit ditunggangi Tiba-tiba hama demokrasi Ya kalian itu, hei penguasa dan dayang keji Jangan pesta! Bisa puas kala rakyatmu tertindas? Jangan tertawa! Perintah siapa berbahagia padahal rakyat penuh luka? Jangan teruskan! Tidak enak bukan memakan domba mati hasil diadu tanpa henti? Tanda kehancuran ini, ingat lah! Lekas berbenah Sebelum tumpah lebih banyak darah Sebelum memuncak segala amarah

biarkan pergi

aku sudah duduk di sini di atas awan sedang menatap kenangan bergegas meninggalkannya aku sudah duduk di sini melihat awan sedang membayangkan masa depan bersiap mengejarnya cukup sudah sampai di sini jangan cari atau hampiri apalagi tangisi cukup sudah sampai di sini biarkan aku pergi jangan harap kembali

Cinta di Iduladha

Ini ceritanya ilustrasi*) Hari ini adalah Hari Raya Iduladha. Setidaknya, hari ketika aku mulai menulis ini bertepatan dengan 10 Dzulhijah 1440 Hijriah --11 Agustus 2019. Berbicara soal Iduladha, hal yang terbayangkan olehku adalah soal cinta. Sekali-sekali lah yuk  open-up (baca: secara eksplisit) ngobrolin cinta. Kenapa cinta? Ada apa dengan cinta? Apa hubungan cinta dan Iduladha? Tepat berabad-abad yang lalu, ada sebuah kisah cinta yang sangat menginspirasi sekaligus menamparku. Benar sekali, kisah cinta Nabi Ibrahim ' alaihissalam dan Nabi Ismail ' alaihissalam . Dalam Al-Quran --Surat As-Saffat ayat 102, diceritakan bahwa ketika Nabi Ismail menginjak dewasa dan sudah pantas mencari nafkah, Allah Swt. menguji Nabi Ibrahim dalam sebuah mimpi. Di mimpi itu Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, yakni Nabi Ismail. Kemudian, Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail mengenai wahyu Allah Swt. tersebut --yang disampaikan melalui mimpi. Dan...

Lulus dari Biomedis, Menjadi Tangis atau Manis?

Kurang dari dua minggu lalu kampusku baru saja menggelar kegiatan wisudaan , judulnya Wisuda Juli. Momen wisudaan kali ini berhasil menyentuh emosiku meskipun aku sedang jauh dari tempat kejadian. Selain karena kakak-kakak tingkat angkatan 2015 yang mulai bergiliran meninggalkan kampus, pada wisuda kali ini sarjana Teknik Biomedis ITB lahir. Untuk pertama kalinya, ITB punya lulusan sarjana Teknik Biomedis. Senang, terharu, dan bangga melihat EB (Teknik Biomedis--red) 2015 telah menyelesaikan studinya di jurusan yang let's say masih dini. Sejujurnya, ketika mendengar cerita-cerita dari mereka, angkatan 2015, di jurusan ini, perasaanku campur aduk. Dari mulai kagum, heran, sampe takut sendiri. Kagum dan heran bagaimana mereka bisa menempuh tahun-tahun penuh spekulasi yang cukup dinamis. Seperti yang sudah kusinggung di awal, ini angkatan pertama yang lulus. Artinya, mereka pula yang menjadi "kelinci" pertama dalam "eksperimen" Teknik Biomedis sebagai jurusan ba...