Skip to main content

Posts

biarkan pergi

aku sudah duduk di sini di atas awan sedang menatap kenangan bergegas meninggalkannya aku sudah duduk di sini melihat awan sedang membayangkan masa depan bersiap mengejarnya cukup sudah sampai di sini jangan cari atau hampiri apalagi tangisi cukup sudah sampai di sini biarkan aku pergi jangan harap kembali

Cinta di Iduladha

Ini ceritanya ilustrasi*) Hari ini adalah Hari Raya Iduladha. Setidaknya, hari ketika aku mulai menulis ini bertepatan dengan 10 Dzulhijah 1440 Hijriah --11 Agustus 2019. Berbicara soal Iduladha, hal yang terbayangkan olehku adalah soal cinta. Sekali-sekali lah yuk  open-up (baca: secara eksplisit) ngobrolin cinta. Kenapa cinta? Ada apa dengan cinta? Apa hubungan cinta dan Iduladha? Tepat berabad-abad yang lalu, ada sebuah kisah cinta yang sangat menginspirasi sekaligus menamparku. Benar sekali, kisah cinta Nabi Ibrahim ' alaihissalam dan Nabi Ismail ' alaihissalam . Dalam Al-Quran --Surat As-Saffat ayat 102, diceritakan bahwa ketika Nabi Ismail menginjak dewasa dan sudah pantas mencari nafkah, Allah Swt. menguji Nabi Ibrahim dalam sebuah mimpi. Di mimpi itu Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, yakni Nabi Ismail. Kemudian, Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail mengenai wahyu Allah Swt. tersebut --yang disampaikan melalui mimpi. Dan...

Lulus dari Biomedis, Menjadi Tangis atau Manis?

Kurang dari dua minggu lalu kampusku baru saja menggelar kegiatan wisudaan , judulnya Wisuda Juli. Momen wisudaan kali ini berhasil menyentuh emosiku meskipun aku sedang jauh dari tempat kejadian. Selain karena kakak-kakak tingkat angkatan 2015 yang mulai bergiliran meninggalkan kampus, pada wisuda kali ini sarjana Teknik Biomedis ITB lahir. Untuk pertama kalinya, ITB punya lulusan sarjana Teknik Biomedis. Senang, terharu, dan bangga melihat EB (Teknik Biomedis--red) 2015 telah menyelesaikan studinya di jurusan yang let's say masih dini. Sejujurnya, ketika mendengar cerita-cerita dari mereka, angkatan 2015, di jurusan ini, perasaanku campur aduk. Dari mulai kagum, heran, sampe takut sendiri. Kagum dan heran bagaimana mereka bisa menempuh tahun-tahun penuh spekulasi yang cukup dinamis. Seperti yang sudah kusinggung di awal, ini angkatan pertama yang lulus. Artinya, mereka pula yang menjadi "kelinci" pertama dalam "eksperimen" Teknik Biomedis sebagai jurusan ba...

Budhiana Kartawijaya: Jurnalis Harus Kreatif

“Seorang jurnalis itu nggak boleh sama dengan kebanyakan orang,” begitu kata Budhiana Kartawijaya, seorang jurnalis senior yang pernah diamanahi sebagai Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Bandung. Budhiana pun berbagi perspektifnya menjadi seorang jurnalis, tentang bagaimana ia memulai, apa yang telah dilalui dan dipelajari, serta apa saja yang harus dihadapi. Pengalaman di Dunia Jurnalistik Kisah perjalanan Budhiana di dunia jurnalistik dimulai dari sebuah pertemuan tidak disengaja. Pertemuan tidak diduga-duga ini terjadi di sebuah masjid penuh sejarah yang telah berdiri sejak tahun 60-an, yakni Masjid Salman ITB. Budhiana yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Padjadjaran cukup aktif berkegiatan di Masjid Salman. Awalnya, Budhiana tidak pernah terpikir untuk bergelut di dunia jurnalistik. Bahkan, cita-citanya adalah menjadi seorang astronom. Sampai suatu hari, dirinya seakan-akan ditakdirkan untuk mencicipi dunia jurnal...

Kisah Kasih Bersamamu

Halo, Boul. Kini usiamu sudah genap 26 tahun. Artinya, sudah berlalu satu tahun semenjak wajahmu berganti. Dari merah dan biru tua menjadi biru muda kehijauan, yang menunjukkan bahwa kamu enerjik, modern, dan dapat dipercaya. Tentu tanpa menghilangkan unsur "B" dan "e" yang telah terpatri. Iya, kedua huruf tersebut menunjukkan bahwa (B)oulevard senantiasa bersemangat untuk meng(e)dukasi melalui produk-produknya. Boul, aku rindu setahun yang lalu. Saat aku masih menjadikanmu prioritas utama serta sumber kemumetanku . Saat aku masih ketakutan dan merasa tidak percaya diri membawa semangatku kepadamu. Saat aku masih mengejar-ngejar semua orang demi lahirnya dirimu kembali. Dan banyak lagi. Sungguh indah dikenang, tapi untuk diulang? Entahlah, mungkin tidak sekarang. Momen kita berkenalan tidak seperti pertemuan-pertemuan lucu dan menggemaskan pada umumnya. Hanya datar, bahkan aku tidak menemuimu langsung. Padahal, saat itu adalah hari Open House Unit (sebenarn...

Menjadi Vulnerable

"Gue selalu mengantisipasi the worst case that could happen ." "Gue selalu berusaha berpikir buruk terhadap orang-orang, dan berbagai situasi." "Gue selalu mempersiapkan diri untuk dilukai, dibantai." Tiga ungkapan tersebut kurang lebih menggambarkan kondisi kita sehari-hari. Kita kerap menghindari dari perasaan kecewa atau sedih, apalagi kalau sebabnya adalah hal-hal yang, menurut orang-orang, sepele. Kita tidak mau dianggap lemah. Kita tidak mau mengalami sakit hati. Kita dihasut untuk takut menjadi seorang yang  vulnerable . Nuhha Thalib, cofounder Rasi Indonesia , selaku salah seorang pembicara dalam kelas MetaTalk-Humanity  stated that being weak is not as same as being vulnerable. Weak and vulnerable are different. Weak means lacking the power to perform physically demanding tasks, easily damaged, or liable to break. While, vulnerable means susceptible to physical or emotional attack or harm. Benar, masih tentang kelas MetaTalk-Humanity. Ini ...