Skip to main content

Posts

Nü year, Nü me

Do you ever wonder why these repetitive New Year "traditions" are deemed important and expected to be life-changing for many people? With the slogan "New Year, New Me," many individuals seem to reset their lives and hope to become better individuals in the new year. Indeed, it's not a bad idea because we need to grow towards the positive, leaving behind things we consider negative or undesirable. Our true adversary is ourselves, along with the relentless passage of time that often makes us lose sight of ourselves. Not to be cynical, but must we wait for a new year to change one, two, three, or many habits? This writing may sound cliché because it even happened to me. I, whose heart was touched anew write again because of the #30haribercerita writing campaign which happens routinely at the beginning of every year. I, who suddenly thought of resuming exercise after my lack of discipline became my top character in 2023. I, who envisioned spending time reading books...

Refleksi Asal Menyambut Usia 23

Sekarang mari kita menulis asal-asalan, tanpa filter apapun. Ya hapus-hapus dan tambah-tambah sedikit lah, tapi yang jelas ini jujur dan betul-betul tidak dipikir panjang, serta berantakan pastinya. Besok aku berusia 23 tahun. Nggak tau sih angka 23 berarti apa selain tua. Bener-bener merasa tua dan ya ampun kok udah 23 tahun aja? Mencoba nggak memikirkan standar hidup orang-orang dan lingkungan, namun rasanya sulit. Standar hidup 23 tahun memangnya apa? Ya, bekerja dan berpenghasilan, hidup mandiri dan bisa melakukan apa saja, mulai meniti karir di bidang tertentu atau mempersiapkan pendidikan yang lebih tinggi, bahkan ada pula yang memasang standar ideal untuk menikah dan memulai keluarga. Pusing kalo dipikirin, tapi nggak boleh lama-lama denial. Karena itu akan terjadi kan, kalo Dia menghendaki tentunya. Dan semakin dini direncanakan, dicari-cari risiko dan mitigasinya (naon sih), harusnya semakin bagus dan semakin siap. Tapi tapi tapi, ada loh yang lebih memusingkan dari urusan sta...

Pertama

Hai, untuk ke sekian kalinya.  Ini post pertama di tahun 2021. Sudah lama ya tidak berjumpa. Banyak sekali peristiwa yang sudah terlewatkan dan tidak terbagikan. Sengaja ku pendam, sebab ku belum tahu bagaimana ujungnya sehingga tak berani ku sampaikan. Mungkin suatu hari nanti aku akan ceritakan, jika ku sempatkan dan tak dilupakan.  Kali ini, ku pinta kalian bantu saja 'tuk doakan. Agar segala kebaikan, keburukan, kemudahan, kerumitan, kebahagian, serta kesedihan yang terjadi dapat menjadi sumber keberkahan.

Menjadi Sarjana Teknik Biomedis ITB

Cerita perjalanan tugas akhir tentu akan menggantung tanpa sepenggal kisah mengenai kehidupan menjadi sarjana, atau lebih tepatnya fresh graduate . Perlu diingat, aku dinyatakan lulus dan disematkan menjadi Sarjana Teknik Biomedis ITB pada bulan Oktober lalu. Maka, tulisan ini akan menggambarkan seorang sarjana yang benar-benar baru menetas --murni opini dan pengalaman pribadi. Disclaimer lainnya, tulisan ini juga ditujukan untuk mengklarifikasi tulisanku yang berjudul Lulus dari Biomedis, Menjadi Tangis atau Manis? . Sebab, banyak (sekitar 7 orang, dan menurutku itu banyak) yang mengajukan pertanyaan lebih lanjut serta stance- ku atas pilihan memilih Teknik Biomedis sebagai program studi yang akan dipelajari selama empat tahun lamanya. Foto toga bersama temen-temen Biomedis ITB Mari kita mulai dari mengapa dulu aku memilih Teknik Biomedis. Teknik Biomedis ITB, atau lebih tepatnya STEI ITB, adalah pilihan impulsif yang baru terpikir di kelas 12 akhir semester 1. Dari SMP sampai SMA, ak...

Seri Tugas Akhir: Di Ujung Perjalanan

Tepat sebulan yang lalu aku berjanji untuk merampungkan tulisan seri tugas akhir, and here we go . Sampai mana, ya, kemarin? ... ... (membaca ulang tulisan sebulan lalu) ... ... Oh, ternyata tentang gagal finish . Waktu itu adalah hari-hari terakhir menuju batas sidang untuk kelulusan pada Wisuda Juli dan kami (aku, Fathiya, Ulfa) ingin mengusahakan sidang tugas akhir dapat terlaksana. Tetapi, suatu hari, kami mengalami kendala teknis dari eksternal, yakni kehilangan data, juga kecerobohan lupa mem- back up  dari saya yang membuat pengerjaan tugas akhir kami harus tertunda. Kami tidak tau kapan data tersebut akan dikembalikan, bahkan kami tidak tau apakah data yang hilang dapat kami peroleh kembali atau tidak. Jika tidak, ya harus dimulai lagi dari awal. Pasrah sambil tetap berusaha menyelesaikan apa yang kami bisa pun jadi satu-satunya pilihan. Akhirnya, kami gagal mencapai garis finish di Wisuda Juli karena tidak bisa sidang sebelum tenggat waktu, namun syukurlah kami mendapat da...

Seri Tugas Akhir: Lika-Liku Perjalanan

Idealnya, tugas akhir adalah tempat mengaplikasikan ilmu-ilmu dari mata kuliah yang dipelajari selama tiga tahun. Nyatanya, tidak juga. Aku justru menemukan banyak hal baru yang belum pernah kusentuh atau bahkan kubayangkan. Contohnya, belajar desain --UI/UX dan UML, mengoperasikan game engine , menyusun konten pembelajaran dan ujian/ evaluasi ketersampaian materi, bahasa pemrograman baru, dan bla bla bla. Tenang, aku tau hal-hal itu akan terjadi. Aku sangat paham risiko yang akan kuhadapi saat memutuskan untuk memilih topik TA yang out of the (Biomed's) box. Lalu, apakah aku merasa kesusahan dalam menjalani risikonya? Ya, susaaaaah sekali. Paling susah adalah memulai, sebab aku berpikir bahwa segalanya harus langsung sempurna. Kan, kan, kan, mana mungkin... Learning by doing  benar-benar gambaran pengerjaan tugas akhirku, bahkan learning   after finishing  haha jatohnya jadi ngasal atau bahasa lebih halusnya sotoy . Beruntungnya aku, proses pembelajaran ini didukung ole...

Seri Tugas Akhir: Awal dan Gambaran Perjalanan

Akhirnya! Memang tidak seharusnya dituliskan di awal cerita, namun itu lah kenyataannya. Cerita ini benar-benar dimulai dengan "akhirnya". Iya, akhirnya aku menulis lagi setelah sekian lama haha. Kali ini mau berkomat-kamit sedikit tentang perjalanan tugas akhir sarjana seorang Rahma Rizky Alifia. Perjalanan yang aku nggak sangka-sangka penuh drama dan makna, dan hebatnya aku bisa (hampir) melaluinya. Aku memilih topik TA (tugas akhir) yang berhubungan dengan manajemen kebencanaan ( disaster management ), tepatnya mengembangkan sebuah platform  edukasi terkait manajemen bencana. Kenapa? Apa hubungannya dengan jurusanku, Teknik Biomedis? Memilih topik TA, kata para kating (kakak tingkat-red), merupakan momen krusial. Sebab, perjalanan tugas akhir bukan lah rentetan cerita yang sederhana. Lika-liku penjelajahan sudah pasti ada. Kerikil atau jalanan berlubang akan kerap ditemui. Bahkan, di saat-saat tertentu bisa saja menemukan gang buntu. Maka dari itu, persiapkanlah segala amu...

Pesan untuk Manusia

Mungkin, ekspektasiku terlalu tinggi. Aku lupa kalau kau juga manusia. Manusia tempatnya salah, jauh dari kesempurnaan. Manusia yang aneh, dan penuh keegoisan. Manusia dengan keinginannya lepas dari kesalahan yang bahkan tidak ia ketahui. Manusia yang gemar meminta maaf tanpa alasan jelas atau gengsi meminta maaf. Mungkin, pikiranku terlalu negatif. Niat minta maaf malah menimbulkan amarah baru. Sebab, aku sungguh tak mengerti mengapa dirimu menyalahkan diriku. Padahal, kau saja yang tidak mampu. Siapa bilang aku belum mengikhlaskan? Hey, jangan kepedean. Siapa bilang masih ada yang tidak kumaafkan? Hey, satu detik pun aku enggan kembali memikirkan. Tolong, jangan jadikan aku sebagai alasan. Atas kesulitan-kesulitan yang kamu rasakan. Tolong, jangan memohon untuk dimaafkan. Padahal, tidak tahu apa yang dipermasalahkan. Maaf karena aku dulu pernah mengganggumu. Aku janji, hidupmu tidak akan kuganggu lagi. Tenang, aku akan memegang omonganku, tak seperti dirimu.

life is so weird, sometimes or most of the times?

life teaches us to be always okay. no matter what has happened. in the end, life wants us to be fine. in the end, life asks us to forgive and forget. here come the questions... why do we need to face life if, in the end, we must forget it? why do we need to know each other if, in the end, we must forget each other? thus, why does life tell us that everything happens for a reason?

Peringatan Kehancuran

Aku geram dan tercekam Aku benci tak henti-henti Menyaksikan para penjarah yang tak punya otak, apalagi hati Menggempur habis negeri ini Kesalku kekal menembus nadi Penjarah demokrasi itu Sungguh tak tahu diri Tak tahu malu! Bajingan seruku Apa-apa provokasi Sedikit-sedikit ditunggangi Tiba-tiba hama demokrasi Ya kalian itu, hei penguasa dan dayang keji Jangan pesta! Bisa puas kala rakyatmu tertindas? Jangan tertawa! Perintah siapa berbahagia padahal rakyat penuh luka? Jangan teruskan! Tidak enak bukan memakan domba mati hasil diadu tanpa henti? Tanda kehancuran ini, ingat lah! Lekas berbenah Sebelum tumpah lebih banyak darah Sebelum memuncak segala amarah

biarkan pergi

aku sudah duduk di sini di atas awan sedang menatap kenangan bergegas meninggalkannya aku sudah duduk di sini melihat awan sedang membayangkan masa depan bersiap mengejarnya cukup sudah sampai di sini jangan cari atau hampiri apalagi tangisi cukup sudah sampai di sini biarkan aku pergi jangan harap kembali

Cinta di Iduladha

Ini ceritanya ilustrasi*) Hari ini adalah Hari Raya Iduladha. Setidaknya, hari ketika aku mulai menulis ini bertepatan dengan 10 Dzulhijah 1440 Hijriah --11 Agustus 2019. Berbicara soal Iduladha, hal yang terbayangkan olehku adalah soal cinta. Sekali-sekali lah yuk  open-up (baca: secara eksplisit) ngobrolin cinta. Kenapa cinta? Ada apa dengan cinta? Apa hubungan cinta dan Iduladha? Tepat berabad-abad yang lalu, ada sebuah kisah cinta yang sangat menginspirasi sekaligus menamparku. Benar sekali, kisah cinta Nabi Ibrahim ' alaihissalam dan Nabi Ismail ' alaihissalam . Dalam Al-Quran --Surat As-Saffat ayat 102, diceritakan bahwa ketika Nabi Ismail menginjak dewasa dan sudah pantas mencari nafkah, Allah Swt. menguji Nabi Ibrahim dalam sebuah mimpi. Di mimpi itu Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, yakni Nabi Ismail. Kemudian, Nabi Ibrahim meminta pendapat Nabi Ismail mengenai wahyu Allah Swt. tersebut --yang disampaikan melalui mimpi. Dan...

Lulus dari Biomedis, Menjadi Tangis atau Manis?

Kurang dari dua minggu lalu kampusku baru saja menggelar kegiatan wisudaan , judulnya Wisuda Juli. Momen wisudaan kali ini berhasil menyentuh emosiku meskipun aku sedang jauh dari tempat kejadian. Selain karena kakak-kakak tingkat angkatan 2015 yang mulai bergiliran meninggalkan kampus, pada wisuda kali ini sarjana Teknik Biomedis ITB lahir. Untuk pertama kalinya, ITB punya lulusan sarjana Teknik Biomedis. Senang, terharu, dan bangga melihat EB (Teknik Biomedis--red) 2015 telah menyelesaikan studinya di jurusan yang let's say masih dini. Sejujurnya, ketika mendengar cerita-cerita dari mereka, angkatan 2015, di jurusan ini, perasaanku campur aduk. Dari mulai kagum, heran, sampe takut sendiri. Kagum dan heran bagaimana mereka bisa menempuh tahun-tahun penuh spekulasi yang cukup dinamis. Seperti yang sudah kusinggung di awal, ini angkatan pertama yang lulus. Artinya, mereka pula yang menjadi "kelinci" pertama dalam "eksperimen" Teknik Biomedis sebagai jurusan ba...

Budhiana Kartawijaya: Jurnalis Harus Kreatif

“Seorang jurnalis itu nggak boleh sama dengan kebanyakan orang,” begitu kata Budhiana Kartawijaya, seorang jurnalis senior yang pernah diamanahi sebagai Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Bandung. Budhiana pun berbagi perspektifnya menjadi seorang jurnalis, tentang bagaimana ia memulai, apa yang telah dilalui dan dipelajari, serta apa saja yang harus dihadapi. Pengalaman di Dunia Jurnalistik Kisah perjalanan Budhiana di dunia jurnalistik dimulai dari sebuah pertemuan tidak disengaja. Pertemuan tidak diduga-duga ini terjadi di sebuah masjid penuh sejarah yang telah berdiri sejak tahun 60-an, yakni Masjid Salman ITB. Budhiana yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Padjadjaran cukup aktif berkegiatan di Masjid Salman. Awalnya, Budhiana tidak pernah terpikir untuk bergelut di dunia jurnalistik. Bahkan, cita-citanya adalah menjadi seorang astronom. Sampai suatu hari, dirinya seakan-akan ditakdirkan untuk mencicipi dunia jurnal...

Kisah Kasih Bersamamu

Halo, Boul. Kini usiamu sudah genap 26 tahun. Artinya, sudah berlalu satu tahun semenjak wajahmu berganti. Dari merah dan biru tua menjadi biru muda kehijauan, yang menunjukkan bahwa kamu enerjik, modern, dan dapat dipercaya. Tentu tanpa menghilangkan unsur "B" dan "e" yang telah terpatri. Iya, kedua huruf tersebut menunjukkan bahwa (B)oulevard senantiasa bersemangat untuk meng(e)dukasi melalui produk-produknya. Boul, aku rindu setahun yang lalu. Saat aku masih menjadikanmu prioritas utama serta sumber kemumetanku . Saat aku masih ketakutan dan merasa tidak percaya diri membawa semangatku kepadamu. Saat aku masih mengejar-ngejar semua orang demi lahirnya dirimu kembali. Dan banyak lagi. Sungguh indah dikenang, tapi untuk diulang? Entahlah, mungkin tidak sekarang. Momen kita berkenalan tidak seperti pertemuan-pertemuan lucu dan menggemaskan pada umumnya. Hanya datar, bahkan aku tidak menemuimu langsung. Padahal, saat itu adalah hari Open House Unit (sebenarn...

Menjadi Vulnerable

"Gue selalu mengantisipasi the worst case that could happen ." "Gue selalu berusaha berpikir buruk terhadap orang-orang, dan berbagai situasi." "Gue selalu mempersiapkan diri untuk dilukai, dibantai." Tiga ungkapan tersebut kurang lebih menggambarkan kondisi kita sehari-hari. Kita kerap menghindari dari perasaan kecewa atau sedih, apalagi kalau sebabnya adalah hal-hal yang, menurut orang-orang, sepele. Kita tidak mau dianggap lemah. Kita tidak mau mengalami sakit hati. Kita dihasut untuk takut menjadi seorang yang  vulnerable . Nuhha Thalib, cofounder Rasi Indonesia , selaku salah seorang pembicara dalam kelas MetaTalk-Humanity  stated that being weak is not as same as being vulnerable. Weak and vulnerable are different. Weak means lacking the power to perform physically demanding tasks, easily damaged, or liable to break. While, vulnerable means susceptible to physical or emotional attack or harm. Benar, masih tentang kelas MetaTalk-Humanity. Ini ...

Berbicara Sedikit tentang Empati

Ting . Ponsel Bila berbunyi, pemberitahuan pesan masuk muncul. Ia membuka aplikasi LINE, dan membalas pesan tersebut. Media sosial memang candu, jangan heran jika Bila meneruskan kegiatannya di dunia maya dengan scrolling linimasa LINE. Tiba-tiba, ia pun terhenti pada sebuah video, durasinya satu menit. Matanya dalam semenit pun menjadi berkaca-kaca. "Heh," ujar seseorang di belakang sambil memegang pundaknya. Bila tidak tau siapa orang yang membuat dirinya kaget. Ia tak berani membalikkan tubuhnya. Bila malu, sebab matanya berkaca-kaca seperti orang ingin menangis. Bila seakan-akan merasa lemah. "Lah, lo nangis Bil?" tanyanya terheran-heran. Kini, Bila dapat melihat ada dagu laki-laki di depan matanya persis dengan kulit sawo matang. Naik sedikit dari dagu, bibirnya menyungging sedikit dengan geli. Bila protes sambil menyembunyikan air yang menggenang cukup lama di mata. Mengusahakan sebisa mungkin agar air yang tergenang tidak jatuh. "Nggak lah! Ngap...